Friday, January 27, 2012

Tips Agar Tak Tertipu Pengembang Nakal

Sejumlah pengamat mengatakan, tahun 2012 adalah saat yang tepat untuk membeli properti. Namun, jangan terburu nafsu. Tak semua pengembang memiliki komitmen yang baik terhadap konsumennya. Jika membeli dari pengembang nakal, jangan heran jika pembangunan mangkrak dan uang pun melayang.


Untuk itu, sebelum memutuskan membeli properti, ada baiknya konsumen mempertimbangkan hal-hal berikut ini:

Kredibilitas
Kredibilitas pengembang sangat penting, sebab dengan perusahaan inilah konsumen melakukan ikatan hukum. Konsumen relatif lebih aman membeli rumah dari pengembang yang sudah go public. Mereka umumnya tidak terpengaruh regulasi perbankan, karena punya banyak alternatif sumber dana, sehingga risiko keterlambatan pembangunan tidak terlalu besar.

Reputasi pengembang (seperti sering mengecewakan konsumen) dapat dilihat dari surat pembaca atau liputan media massa tentang kasus-kasus perumahan. Bisa juga dengan menghubungi Real Estat Indonesia (REI), Yayasan Lembaga Konsumen, atau Lembaga Advokasi Konsumen Properti Indonesia.

Carilah pengembang yang bekerjasama dengan bank sebab berarti mereka telah dievaluasi.

Legalitas
Pastikan area tanah yang dibangun perumahan telah terbit sertifikat induknya. Konsumen berhak menanyakan dan melihat sendiri sertifikat itu. Jika legalitas lokasi perumahan yang akan dibeli masih berupa izin lokasi, sangat tinggi risikonya. Untuk itu, tanyakan dulu salinan induk sertifikatnya. Pengembang yang baik tidak akan segan-segan menunjukkannya.


Pegangan konsumen dalam membeli rumah adalah perjanjian pengikatan jual beli (PPJB). Di sana tertera spesifikasi rumah, harga, cara pembayaran, serah terima rumah, pemeliharaan rumah, lengkap dengan hak dan kewajiban masing-masing serta sanksi-sanksinya. PPJB itu harus dipahami benar sebelum menandatanganinya.

Komitmen
Ketika mempromosikan produk, biasanya pengembang menjanjikan berbagai fasilitas. Dalam perkembangannya, ada kemungkinan pengembang mengabaikan fasilitas-fasilitas yang pernah dijanjikan itu, untuk menekan biaya. Sebaiknya, konsumen mengonfirmasi hal itu, agar mendapat kejelasan fasilitas apa saja yang akan didapatkan ketika menempati rumah.


Konsumen juga dapat membuat perjanjian dengan pengembang terkait ketepatan waktu serah terima dan kualitas bangunan sebelum melakukan booking fee. Misalnya, bila pengembang terlambat menyerahkan surat perjanjian jual beli (SPJB) maka mereka akan  terkena denda 1/1000 dari nilai bangunan. Pengembang yang baik biasanya tidak akan keberatan.
Anto Erawan



sumber : http://id.berita.yahoo.com/blogs/rumah/agar-tak-tertipu-pengembang-nakal-110412456.html

No comments:

Post a Comment